Lelaki tua 60 tahun yang naknya ditahan di penjara Silivri Istanbul sekitar 10 bulan atas tuduhan percobaan kudeta, mengikuti “Kampanye Keadilan” yang dimulai oleh partai oposisi utama CHP pada hari kamis, untuk menuntut pembebasan anaknya, harian Sozcu melaporkan.

Surat kabar ini mengidentifkasi lelaki ini, lelaki ini bernama “Paman Veysel” dan dilaporkan bahwa dirinya telah berjaga sejak di depan Pengadilan Istanbul Caglayan sejak Agustus 2016 lalu, untuk memprotes penangkapan atas anaknya dan datang ke Ankara setiap hari kamis untuk menghadiri kampaye.

Anaknya Paman Veysel dadalah seorang siswa angkatan udara dan ditahan setelah percobaan kudeta 15 Juli atas tuduhan percobaan penggulingan pemerintah Turki dan parlemen Turki dengan menggunakan kekuatan udara untuk organisasi teroris.

CHP memulai “Kampanye Keadilan” pada hari Kamis dari ibukota Ankara menuju Istabul, untuk memprotes penangkapan atas Deputi CHP Enis Berberoglu pada hari rabu sebelumnya.

ketua partai CHP Kemal Klicdaroglu tiba di Ankara Guven Park, dimana partai akan memulai kampanyenya. Dengan satu kata tulisan di tangannya “Keadilan”

Pada protes hari pertama, Kilicdaroglu telah berjalan sekitar 18 km.

Pengadilan Tinggi Kriminal di Istabul telah menjatuhkan hukuman 25 tahun penjara kepada Berberoglu atas laporannya tentang truk milik Badan Intelejen Turki (MIT), mengirimkannya langsung kepenjara tepat setelah partai berkuasa terpilih.

Kilicdaroglu berbicara pada reporter di Guven Park “kita sedang dihadapkan dengan Rejim diktator di tanah kita. kita bilang ‘cukup sudah cukup,’ keadilan harus kembali ke negara ini. Jika memang harus ada yang kami bayar, kami akan bayar berapapun harganya. kita harus berjuang bersama demi masa depan negara ini,” ucapnya.

Kampanye ini diperkirakan berjalan sekitar 25 hari dan berakhir di depan penjara Maltepe di Istanbul, dimana deputi CHP di tahan.

“Tidak ada hubungan kampanye ini dengan partai politik. Keadilan, keadilan, keadilan. kami tidak menginginkan rejim diktator, kami tidak menginginkan pembuat kudeta “20 Juni”, kami tidak menginginkan siapa-siapa pembuat kudeta, kami tidak ingin hidup di negara yang tidak ada keadilan,” Kemal Kilicdaroglu

Turki selamat dari percobaan kudeta militer pada 15 Juli, namun memakan korban 240 orang dan ribuan lainya menderita luka-luka. Tepat setelah kudeta berakhir, pemerintah AKP bersama Presiden Erdogan mendeklarasikan state of emergency 20 Juni, yang mana masih berlangsung hingga saat ini.

Kilicdaroglu sendiri mendefinisikan deklarasi state of emergency sebagai bentuk kudeta, karena pemerintah telah menahan ribuan orang dan membersihkan ribuan lainnya dari jabatan pemerintahan dengan tuduhan pengkudeta.

Sementara itu, penagkapan Berberoglu, yang dulunya menikmati kekebalan parlemen, memungkinkan karena CHP dan MHP sendiri yang memberikan dukungan pada proposal AKP untuk penghapusan kekebalan palementer tahun lalu.

Kekebalan dari seluruh deputi dari penyelidikan telah dibatakan pada Mei 2016, saat ini 11 deputi HDP berada di penjara dikarenakan tuduhan atas hubungan dengan organisasi teroris.

Related News